Hipotesis Statistik

Hipotesis statistik adalah pernyataan atau dugaan mengenai satu atau lebih populasi.

Benar atau salahnya suatu hipotesis tidak akan pernah diketahui dengan pasti, kecuali  dengan memeriksa seluruh populas. Tentunya ini akan sangat sulit dilakukan dan bahkan mustahil dilakukan, mengingat keterbatasan yang ada (tenaga, biaya, waktu dan lainnya). Dengan demikian, kita hanya bisa mengambil sampel atau contoh acak saja dan menggunakan informasi yang ada untuk menerima atau menolak hipotesis. Perlu ditegaskan bahwa penerimaan suatu hipotesis statistik adalah merupakan akibat tidak cukupnya bukti untuk menolaknya dan tidak berimplikasi bahwa hipotesis itu benar. Penolakan suatu hipotesis berarti menyimpulkan bahwa hipotesis itu salah sedangkan penerimaan suatu hipotesis semata – mata mengimplikasikan bahwa kita tidak mempunyai bukti untuk mempercayai sebaliknya.

Ilustrasi

Dalam pelemparan sekeping uang logam sebanyak 100 kali, kita mungkin ingin menguji hipotesis bahwa uang itu setimbang. Disebutkan dalam parameter populasi, kita ingin menguji hipotesis bahwa proporsi munculnya sisi gambar adalah p=0,5 bila uang itu dilemparkan terus menerus tanpa hentinya. Meskipun seandainya uang logam itu setimbang, kejadin munculnya sisi gambar 48 kali bukanlah hal yang mengejutkan. Hasil yang demikian itu tentu saja mendukung hipotesis bahwa p=0,5 . Tetapi kita juga bisa mengatakan bahwa hasil yang demikian itu konsisten dengan hipotesis bahwa p=0,45. Jadi, dalam menerima hiptotesis itu, satu – satunya yang dapat kita pastikan adalah proporsi munculnya sisi gambar yang sesunggunhya tidak terlalu jauh berbeda dari setengah. Bila ke 100 lemparan itu hanya menghasilkan 35 sisi gambar, maka kita mempunyai cukup bukti  untuk menolak hipotesis itu. Mengingat bahwa peluang memperoleh 35 sisi gambar atau kurang dari itu dalam 100 lemparan uang yang setimbang kira – kira sebesar 0,002. Berarti telah terjadi suatu kejadian yang jarang sekali terjadi, atau kita benar dalam menyimpulkan bahwa p ≠ 0,5 .

Hipotesis yang dirumuskan dengan harapan akan ditolak membawa penggunaan istilah hipotesis nol. Sekarang ini istilah itu telah digunakan pada sembarang hipotesis yang ingi diuji dan dilambangkan dengan Ho. Penolakan Ho mengakibatkan penerimaan suatu hipotesis alternatif  yang dilambangkan dengan H1. Hipotesis nol mengenai suatu parameter populasi harus dinyatakan pasti sebagai suatu nilai bagi parameter itu, dan alternatifnya membolehkan beberapa nilai kemungkinan. Jadi bila Ho menyatakan hipotesis nol bahwa p=0,5 bagi suatu binom maka hipotesis alternatifnya H1 dapat berupa p > 0,5 atau p < 0,5   dan bisa juga p ≠ 0,5 .

Ilustrasi

Sebuah perusahaan rokok menyatakan bahwa kadar nikotin rata – rata rokok yang diproduksinya tidak melebihi 2,5 miligram. Apabila kita menyatkan hipotesi nol dan alternatifnya maka

1

Meskipun kita menuliskan hipotesis nol-nya dengan tanda sama dengan, namun itu harus dipahami sebagai mencakup semua nilai yang tidak dicakup oleh hipotesis alternatifnya. Akibatnya, menerima Ho tidak boleh diimplikasikan bahwa rata – rata populasinya (μ) tepat sama dengan 2,5 miligram, namun harus diartikan bahwa kita tidak mempunyai bukti yang cukup untuk mendukung H1.

Referensi

Walpole, R. E. (1995). Pengantar Statistika Edisi ke-3. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tagged with: , ,
Posted in Metode Statistik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives
%d bloggers like this: