Berhati – hati Menggunkan Korelasi Pearson

Korelasi pearson merupakan ukuran korelasi yang sangat sering digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel. Akan tetapi, ukuran korelasi ini akan dapat meberikan informasi yang salah jika tidak digunakan pada tempatnya atau jika data dari variabel yang diukur bermasalah. Berikut akan diberikan ilustrasi untuk menjelaskan hal tersebut.

Ilustrasi 1

Diambil  10 orang sebagai sampel untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara tinggi badan dengan berat badan. Haslinya disajikan dalam tabel berikut

3

 

Apabila disajikan dalam scatter plot

2

 

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa adanya nilai yang ekstrim atau  outlier. Jika kita menghitung nilai korelasi pearson dengan tetap mempertahankan nilai ekstrim tersebut maka didapat nilai korelasi pearsonnya sebesar  0,837 yang mengindikasikan terdapat hubungan liner yang kuat dan positif antara tinggi badan dan berat badan. Seandainya kita membuang nilai ekstrim tersebut yaitu membuang sampel ke-6 didapat korelasi pearson sebesar 0,667. Terlihat  terdapat perbedaan nilai korelasi pearson yang didapat dengan hilangnya nilai ekstrim.  Oleh sebab itu, perlu kehati – hatian dalam menggunakan korelasi pearson karena dipengaruhi dengan adanya nilai ekstrim pada data. Untuk  mengatasi masalah ini, salah satunya dapat dengan  tidak melibatkan nilai ekstrim dalam penghitungan. Tentunya nilai ekstrim yang ada tidak dibuang tapi dimasukan dalam analisis tentang adanya nilai ekstirm tersebut dan penjelasannya. Meskipun peneliti juga dapat melakukan analisis terpisah dengan menyajikan hasil yang melibatkan dan tidak melibatkan nilai ekstrim. Dalam penjelasan ini hanya ditekankan pengaruh dari nilai ekstrim terhadap hasil korelasi pearson yang didapatkan.

Ilustrasi 2

Disajikan data mengenai hubungan tinggi badan dengan berat badan

4

 

Jika kita menghitung nilai dari koefisien korelasi pearsonya, maka dididapat nilai sebesar  -0,09 yang menunjukan hampir tidak adanya hubungan yang linier antara variabel tinggi badan dan berat badan. Disini, hanya ingin dingatkan bahwa korelasi pearson hanya mengukur hubungan linier antara dua variabel numerik.  Jika kita menyajika data tersebut dalam scatter plot akan terlihat bahwa data menyebat secara acak dan tidak terdapat indikasi terdapatnya hubungan linier dari kedua varibel tersebut.

5

 

Catatan:

Nilai korelasi pearson didapat dengan menggunakan SPSS beserta dengan scatter plotnya

Tagged with: ,
Posted in Analisis Data Kategori, Metode Statistik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives
%d bloggers like this: